Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, May 7, 2013

Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen) Sahabat

Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen)

SAHABATKU

Dia seorang sabatku yang bernama Fitri. Kami bersahabat sejak di bangku SLTP kelas dua hingga detik ini. Dia sebagai motivator bagiku dalam menjalankan kehidupan. Fitri adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Masing-masing adikknya masih duduk di bangku pendidikan kelas dua SLTP dan kelas tiga SD. Dulu , sewaktu tuhan belum memanggil ayah terkasihnya, Fitri adalah anak yang sangat bergantung pada ayahnya. Ingin itu dan ini, ayahnya selalu berusaha memenuhinya. Sama juga dengan ibunya yang memanjakannya dalam keluarganya. Karena ia meliki alergi kulit di jari-jari tangannya, maka ibunya jarang sekali menyurah pekarjaan dirumah meskipun ia anak perempuan. Beda sekali dengan ibuku, ibuku berkata bahwa anak gadis wajib bisa pekerjaan rumah, terutama memasak. Karena bagi suami masakan yang terniknat adalah masakan yang di sajikan oleh orang yang dicintainya” kata ibuku dengan meyakinkan. Namun aku juga memahami hal tersebut karena apabila masakanku dipuji oleh ayah dan abangku, terasa ingin terus membuat suatu masakan.Walaupun fitri jarang membantu pekerjaan sehari-hari di rumah, tapi ia sejak SLTP telah mencicipi pekerjaan berwiraswasta. Pertama kali yang tejun dalam dunia wiraswawta seperti bekerja di toko butik, ponsel serta mengajar anak-anak disekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Namun, kebahagian Fitri berubah sangat dratis. Semenjak kepergian ayah tercintanya, ia bagaikan menjujung bukit di pundaknya. Ia sebagai pengganti tulang punggung di keluaganya. Hal-hal yang tidak pernah dibayangkannya dalam kehidupan, terasa mimpi baginya yang tidak akan pernah keluar dari mimpi tesebut karena itu sebagai kenyataan yang nyata di keahidupan ini. Ia harus membanting tulang demi kelangsungan ibu dan adik-adiknya. kami sama-sama mahasiswi di suatu universitas, namaun berbada fakultas. Aku di fakultas FKIP sedangkan ia di fakultas FISIPOL.

Kami juga sama berkerja di satu perusahan yang sama. Walaupun kami masih kuliah, namun kami telah bisa merasakan bagimana hasil keringat diri sendiri. Kami bekerja pada intansi non formal di bidang pendidikan. Fitri sebagai pendidik tingkat SLTP kelas IX sedang aku pendidik di tingkat SD kelas VI.

Rutinitas kami selalu sejalan. Pagi-pagi kami masuk kuliah dan sore dari pukul 4 hingga pukul setengah 9 malam kami mengajar di BIMBEL. Di perjalan sewaktu menuju pulang, Fitri selalu mencurahkan isi hatinya yang tak pernah terbayangkan sebelum baginya. Ia merasa kehidupan yang di jalankannya bagai mimpi, namun ku juga dapat membayangkan pabila tarjadi dalam diriku. Sekali-kali aku mengingatkan ia bahwa allah tidak akan memberi suatu cobaan di luar kemampuan ummatnya, serta akupun selalu mengingatkannya bahwa sangat banyak orang-orang termasuk aku yang selalu menyayanginya.

Fitri termasuk mahasiswi yang aktif, maksudnya tidak hannya aktif di luar namun juga aktif di perkuliahan. Ia menjabat sebagai sekretaris di fakultasnya dan sering mengikuti kegiatan-kegiatan formal maupun non formal pada perkuliahan. kami selalu membanding-bandingkan kelebihan maupun kekurangan pada fakultas masing-masing. “Hmm... kok lebih unggul kedengaran kekompakan di fakulatas Ya dari pada Ma ya...”, jawab dengan nada merendah. Namun fitri hanya tersenyum agak kebingungan mendengar perkataanku. 

Dalam mengajar, firti memiliki sifat lebih tegas dari padaku. Karena anak-anak yang di ajari lebih dewasa dari pada anak-anak yang aku ajarkan. Namun, aku lebih dapat mengendalikan diri menghadapi anak-anak yang agak malas dalam belajar. “Kok bisa Ma ya sabar ngajarin anak-anak SD yang peribut ni, kalau Ya liatin ja da pusing! gemas liat mereka yang ngak ngerti ni....”, tanya fitri. He... ibuk, ibuk! Itulah i’m masuk di Pendidikan Guru Sekolah Dasar agar tahu teknik-teknik dalam menghadapi anak SD....”, jawabku dengan perasaan geli. Namun fitri tampak tidak yakin dari jawaban yang ku lontarkan.


            Setiap pagi-pagi sekali Fitri mengantar adiknya putri ke sekolah di kota. Kami tinggal di desa dekat pinggir kota Pekanbaru yang tidak jauh bagi kami yang selaSlu menempuh perjalanan. Namun berbeda dengan orang-orang berpersepsi bahwa tempat tinggal kami lumayan jauh, selalu hampir sama pendapat orang yang menanyakan alamat tempat tinggal kami. Setelah Fitri selesai mengantar adiknya, maka ia menjalani rutinitas perkuliahan. tidak hannya berhenti di perkuliahan saja rutinitas yang di jalaninya. Dari perkuliahan, Fitri mengajar beberapa orang anak-anak tetangga dekat rumah. Setelah selesai mengajar anak – anak les yang belajar di rumahnya, maka ia bergegas untuk pergi ke tempat kerja kami berdua. Fitri dulu hanya anak yang aktif di bidang pembelajaran atau pendidikan. Tetapi, setelah ayahnya tiada fitri bagaikan anak yang tahan banting untuk membiayai kehidupannya beserta adik – adik dan ibunya.
            Semangat, semangat... kita tidak perlu membayangkan sesuatu yang belum diusahakan. Tapi, niatkan di lubuk hati tindakan yang akan kita lakukan serta serahkan hasil usaha kepada Tuhan YME. Karena, hanya allah yang pasti menentukan yang terbaik untuk kita.

            Teman, sahabat bahkan ia telah aku anggap seperti saudara kandung...
Aku akan berusaha selalu ada di dekatmu, sebagai tempat curhatmu, kakak kedua bagi adik – adikmu serta anak perempuan bagi ibumu. Dan sebaliknya keluaga besarkupun sama berpendapat denganku.

Wednesday, February 6, 2013

Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen) Keluarga

Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen) Keluarga

Menggapai Mimpi

Suara ombak menderu-deru dipagi hari yang dingin. Tapi aku dan abangku Rinto tetap menjalankan aktifitas kami seperti biasanya yaitu membawa perahu kedaratan. Pekerjaan kami adalah sebagai nelayan. Ayah dan ibu telah lama meninggal dunia, jadi kami harus berjuang untuk hidup. Kami berangkat malam dan pulang pagi-pagi dini hari. Itulah rutinitas aku dan abangku setiap hari. Hari ini aku dan abangku mendapatkan banyak ikan yang akan dijual kepasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Danang kamu pergi saja kesekolah nanti kamu terlambat, biar abang yang jual ikan-ikan ini kepasar kata Rinto. Tapi bang, belum sempat aku berbicara sudah dipotong olehnya. Kamu bilang kamu ingin menjadi orang sukses, ayo pergi kesekolah sana kejar cita-citamu kata abangku lagi. Terimakasih bang, aku pergi kesekolah dulu kataku sambil tersenyum dan menyalami tangannya. Sesampainya disekolah kulihat semua anak-anak sudah duduk rapi dikursi masing-masing dan baju mereka terlihat rapi beda sekali dengan baju rusuh. Akupun mengetuk pintu kemudian bu guru menyapaku Danang, kamu terlambat lagi, ada apa tanya ibu Rini guruku, eh Bu saya ..... sebelum aku selesai berbicara sudah dipotong oleh Udin. Palingnya dia telat bangun bu, orang miskin seperti dia mana punya jam dirumah hahahaha semua teman ikut menertawakanku. Sudah cukup, siapa yang bertanya dengan kamu Udin? Ibu bertanya dengan Danang, kata ibu guru. Kemudian ibu guru menanyakan padaku kenapa aku sering terlambat maaf bu, sebelum kesekolah saya membantu abang dulu kelaut jadi pulangnya pagi-pagi. Kemudian bu guru bertanya jadi kamu belum ada istirahat sama sekali nak tanya ibu Rini dengan muka prihatin. Kamu pulang sekolah bisa istirahat bu ucapku. Ya sudah ayo kamu duduk kata bu Rini dan yang mempersilahkan aku duduk. Aku pun duduk dikursiku sendiri. Anak-anak kalian harus mencontoh Danang, lihat biarpun dia sekolah namun Danang tetap membantu abangnya kelaut. Nah kita lanjutkan pelajaran kita selanjutnya kata ibu Rini dengan memulai pelajaran. Pagi ini seperti biasa aku terlambat lagi. Tetapi ibu Rini sudah dapat memaklumi, jadi dia tidak lagi bertanya mengapa aku terlambat. Anak-anak dua minggu lagi ada perlombaan matematika se SD dikota kita kata ibu Rini. Tapi bu kami sudah kelas 6 mengapa kami yang mengikuti lomba itu tanya Udin. Justru itu Udin, olimpiade ini memang khusus untuk anak kelas 6 karena siapa yang menang dia yang akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke SLTP terbaik dikota, selama 3 tahun pula kata bu Rini. Beasiswa itu apa bu tanyaku penasaran semua teman-temanku bertanya dan bilang aku bodoh. Sudah-sudah jangan bertanya kepada teman yang tidak tahu. Danang, beasiswa itu adalah kita diberikan uang selama sekolah, jadi kita tidak perlu lagi mencari uang kebutuhan sekolah, tinggal belajar saja kata ibu Rini menjelaskan. Saya mau ikut bu kataku reflek. Eh orang miskin tahu diri dong, kamu itu tidak mungkin bisa melanjutkan sekolah lagi, mana ada uang ejek Udin. Itu makanya aku mau ikut, saya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus menyusahkan abangku, kataku balas pertanyaan Udin hahahaha mimpi sekali, mana bisa kamu mengalahkan orang yang pintar-pintar dikota kata Udin. Sudah-sudah Danang kamu benar-benar ikut kata ibu Rini kepadaku. Ya bu, saya mau benar-benar ikut jawabku dengan semangat. Baiklah mulai besok setelah pulang sekolah kamu datang kerumah ibu, ibu akan ajarkan kamu soal-soal mengenai olimpiade matematika. Serius bu tanyaku dengan penuh gembira. Terimakasih bu kataku semangat. Baiklah anak-anak kita lanjutan materi pembelajaran kita. Begitulah rutinitasku setiap hari, malamnya sampai pagi membantu abang kelaut, setelah itu pergi kesekolah dan pulang sekolah belajar matematika dirumah ibu Rini. Walaupun aku kurang istirahat tapi aku tidak peduli, benar-benar ingin mendapatkan hadiah itu dan sekolah dikota. Terkadang aku juga sering diejek oleh Udin tapi semakin aku diejek, semakin besar ingin belajarku. Tidak hanya dirumah ibu Rini aku belajar, sepulang dari rumah ibu Rini pun dan didalam perahu aku tetap belajar demi mengapai keinginanku lanjutan sekolah karena aku benar-benar ingin sukses dan aku tidak mau menjadi nelayan lagi, cukup abangku saja yang menjadi nelayan. Itulah mimpiku harus sukses. Satu minggu berlalu, aku tetap menjalani rutinitas seperti biasanya, tapi siang ini ibu Rini kelihatannya sangat murung sekali aku tanya kenapa dia murung, pertamanya dia enggan menjawab tetapi diapun menjelaskan, kata bapak kepala sekolah sepertinya kita tidak dapat mengikuti olimpiade itu karena dana sekolah kita tidak mencukupi, ketua komite marah karena anaknya tidak diikutkan olimpiade matematika sehingga dia tidak mau memberikan dana kepada kita kata ibu Rini sedih. Memangnya siapa anak ketua komite kita bu tanyaku penasaran? Udin, dia bilang sama ayahnya kalau ibu pilih kasih, ibu hanya memilih kamu ikut olimpiade, dia bilang dia ingin ikut namun ibu tidak mengizinkannya itulah yang diceritakan Udin kepada ayahnya. Kata ibu Rini tanyaku kepada ibu Rini kenapa Udin seperti itu padahal dia bilang kepadaku dia sama sekali tidak tertarik mengikuti olimpiade matematika jadi ibu bagaimana olimpiade itu, saya tidak bisa mengikutinya tanyaku sedih. Ibu belum bisa menjawab pertanyaanmu nak ibu akan mengusahakan agar kamu ikut olimpiade matematika karena ibu ingin sekali kamu tetap melanjutkan sekolah karena kamu anak yang pintar dan memiliki etika. Ibu yakin akan menjadi anak yang sukses kelak kata ibu Rini dengan tersenyum menatapku. Amin ucapku terimakasih ya bu kataku dengan penuh rasa haru.